Bus Malam

by - Monday, March 09, 2020


Menarik sekali rasanya memperhatikan orang yang lalu lalang di terminal bus. Aku bisa melihat bahagianya orang yang mau pulang kampung dan bertemu keluarganya, atau rasa lelah setelah perjalanan jauh yang cukup menguras dompet. Atau bahkan teriakan kasar dari para pengamen karna pertanyaannya tak di jawab oleh calon penumpang.

Dan aku sendiri termasuk golongan yang melangkahkan kaki ke dalam bus dengan sejuta rasa putus asa dan satu harapan mengawang. Putus asa dengan kenyataan kalau ternyata hidupku sangat tidak berjalan dengan baik dan juga harapan mungkin saja bus ini mampu menjembatani ke hidup yang lain.

Aku duduk di dekat jendela sambil memandang pedagang asongan yang naik turun ke dalam bis ketika seorang laki-laki yang kutaksir umurnya 1/4 abad mengucap permisi dan duduk di sebelahku. Aku hanya acuh sambil terus berkutat dengan pikiranku sendiri.

Ingatan-ingatan buruk terus berkelebatan seiring berjalannya bus membelah dinginnya malam ini. Ingatan tentang bagaimana indahnya hubunganku dengannya masih saja menyeruak masuk, walaupun aku sudah mencoba untuk menghapusnya.

"Yan, rasanya aku pengen banget nanti kuliah di luar kota. Pengen jadi anak kos, terus pulang kampung naik bus kaya gitu," ujarku sambil menunjuk mbak-mbak yang sedang menenteng tas jinjing besar ke arah halte di mana aku dan dia berteduh.

"Harus banget ya Din kamu kuliah di luar kota?"

"Ya itu keinginanku, Yan. Kenapa?"

"Kamu bisa nggak sih kuliah di sini aja, toh kampus di mana-mana sama aja. Lagi pula di sini lebih murah, ada aku yang bisa anterin kamu juga." Dia menjawab dengan nada datar dan matanya menatap lurus ke depan membelah hujan.

Aku hanya diam. Aku tidak mau berdebat dengannya barang sekalipun.

"Maaf, mbaknya mau ke mana ya?"

"Mau ke Surabaya."

"Kuliah ya? Kuliah di mana?"

Aku tersenyum miris. "Belum kuliah, Mas. Masih mau cari kerjaan."

"Hah, gimana mbak?"

"Mau cari kerja dulu baru kuliah."

Aku mengambil ponselku mengabaikan mas-mas random di sebelahku yang masih ber-oh-ria. Aku mencoba mengambil foto yang bagus untuk instastory, barangkali ada yang peduli dengan keberangkatanku hari ini.

Kuletakkan kembali ponselku di dalam tas yang sedari tadi ada dekapanku. Melongokkan kepala ke luar jendela menikmati suasana malam di daerah yang asing buatku cuma buat melupakan rasa mual yang mencekat di tenggorokan sedari naik ke bus.

"Yan, kamu Minggu depan nggak ada acara, kan? Kamu bisa temenin aku tes di Malang, kan?"

"Iya aku bakal nemenin kamu," jawabnya lesu dari seberang telepon.

"Makasih ya, Yan. Semoga ini bisa jadi test terakhirku." Aku masih berharap banyak walaupun sudah berkali-kali gagal.

"Iya, terakhir kali aku nemenin kamu juga, Din," sahutnya lirih namun mantap.

"Hah?"

"Iya mungkin ini akan kali terakhir aku nemenin kamu. Aku nggak bisa ngikutin kamu lagi, aku juga udah lelah ngejar kamu, sedangkan kamu sibuk ngejar impianmu."

"Ryan bukan gitu maksud aku, aku sayang banget sama kamu."

"Pahit, Din."

"Uhuk.." Bisa-bisanya aku tersedak.

"Mbak, mau permen?"  Mas-mas di sebelahku masih coba ngajakin aku ngobrol. Mungkin aku keliatan semenyedihkan itu.

"Makasih ya mas," jawabku sambil mengambil sebuah permen dari tangannya kemudian menelan permen tersebut.

"Baru pertama ya, Mbak?"

"Udah beberapa kali sama temen, cuma baru kali ini sendiri."

Kuambil ponsel di tas saat aku rasa ada notifikasi getar, sambil terus berharap dia masih memperdulikanku. Nihil. Tidak ada satupun pemberitahuan darinya. Bahkan dia saja tidak melihat instastoryku. Tidak ada harapan lagi, aku langsung menonaktifkan ponsel dan kembali menyimpannya.

Bus melaju dengan kecepatan tinggi, pun aku yang berusaha secepat mungkin sampai dan meninggalkan semua kenangan bersamanya jauh di belakang sana. Aku menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan-pelan sambil berusaha membuang ingatan tentangnya sebanyak mungkin.

"Mbaknya nanti turun di mana?"

Sumpah aku tidak paham kenapa mas-mas disebelahku ini terus-terusan bertanya. "Turun di terminal, mas."

"Terus ke tujuan naik apa?"

Astaga, bodoh sekali aku belum memikirkan hal ini. "Eum dijemput temen nanti mas."

"Oh bagus deh. Udah hampir sampai mbak, mendingan ditelpon aja temennya."

"Iya, mas."

Aku pun serta merta menyalakan ponselku dan berusaha mencari orang yang bisa dihubungi. Otakku benar-benar tidak bisa memproses ini sampai akhirnya aku mengetik di google tentang permasalahanku ini.

"Eh mas, punya aplikasi ojek online?"

"Ada. Mau dipesanin ojek aja?" si Mas tersebut tersenyum ramah.

Kurang ajar, aku melewatkan hal seindah ini gara-gara sibuk dengan pikiranku sepanjang perjalanan.





You May Also Like

4 comments

  1. that's a nice story! thank you for sharing

    xoxo
    style frontier

    ReplyDelete
  2. Tau gitu bisa dijadiin gebetan. Siapa tau jodoh. Biar seperti judul FTV. Jodohku Ketemu di Bis. ๐Ÿ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo FTV biasanya, Cintaku Ditarik Kenek Bus wkkkkkk.

      Delete