Memangnya Kenapa Kalau Masa Depanku Suram?

by - Friday, December 04, 2020



Aku lagi cari buku-buku tentang self improvment sewaktu kalimat tersebut mampir ke pikiranku. Entah karena apa. Yang aku tau aku sedang merasa di ambang jurang, maju berarti aku harus mencari cara bagaimana bisa mendarat dengan selamat tanpa support, mundur berarti pelarianku selama ini sia-sia.

Ya aku sebut apa yang aku lakukan sekarang ini adalah kabur dari kenyataan bagaimana aku dilahirkan. Kasarnya.

Sebenarnya dari perjalananku mencapai titik ini disebut susah pun tidak terlalu (mungkin), dengan bekal wajah polos dan bodoh didukung ijazah SMK aku bisa mendapat pekerjaan yang cukup menarik untuk diceritakan sewaktu reuni keluarga. Menikmati hidup di hingar-bingar salah satu kota besar di Indonesia dan melihat bagaimana orang menghamburkan uang setiap weekend adalah bonus.

Bapak sambungku terus bilang jangan sia-siakan pekerjaanku sekarang, ibuku kerjakan apa yang ada di hadapanku sekarang. Sedangkan mbahku bilang bilang, "Nduk, kamu kalo capek pulang aja. Aku masih sanggup kasih makan kamu."

Aku bimbang.

Aku merasa ada banyak hal besar yang sudah ku mimpikan dan rencanakan sejak lama. Di sisi lain akupun lelah, hidup mengejar sesuatu yang celahnya pun belum aku ketahui. 

Tak terhitung bagaimana aku memutar lagu Christina Aguilera yang berjudul Hurt hanya untuk mentrigger air mata. Aku hilang, aku tamat. Itu yang terus kukatakan.

Hingga beberapa hari belakangan sewaktu mencari motivasi hidup, aku menemukan beberapa video self help, beberapa di antaranya dari pembicara di kanal Youtube TedEx. Bebeapa di antaranya bilang kalau self help is suck.

Memang betul.

Bagaimana bisa aku denial sementara selama perjalanan ini aku selalu mengubah diriku tapi tetap saja gagal. Aku mewarnai rambutku dengan harapan akan bahagia. Tapi tidak juga. Aku mencoba menurunkan berat badanku, sewaktu turun aku merasa senang, dan tidak lama kembali naik ke angka yang tidak pernah aku bayangkan. Wah bahkan aku tidak bisa mengubah fisikku sendiri. 

Bagaimana kalau aku memang tidak ditakdirkan menjadi sesorang yang sukses? 

Bayangan-bayangan cibiran orang-orang kembali mampir. Aku tidak tahu apakah aku harus menyesali watak sombong dan culasku sewaktu kecil hingga akhirnya mungkin ini hukuman yang aku dapatkan. Tapi bukannya dosa anak-anak masih jadi tanggungan orang tuanya? IDK, memangnya siapa yg tau takaran tepat dari dosa.

Tidak ada jaminan sekarang aku bisa tajir melintir kalau sewaktu kecil aku diam saja sewaktu dicemooh.

Hidup ini tidak eksak.

Bagaimana kalau masa depanku suram?

Siapa yang bilang kalau seorang hidup harus kaya. 

Banyak sekali buku-buku bagaimana menjadi orang sukses, tapi memangnya berapa orang yg berhasil setelah membaca buku tersebut. Kalau keberhasilannya di atas 50%, mungkin pemerintah akan membagikan buku tersebut ke tuna wisma di luar sana alih alih mengajari mereka membaca.

Orang sukses mulai dari 0? ADA. Tapi orang sudah jempalitan sejak 0 dan terus gagal sampai ajal, IDK MUNGKIN LEBIH BANYAK.





You May Also Like

6 comments

  1. Memang banyak banget problematika yang bakal kita rasain kalo udah dewasa, saya pun lagi ngerasa "kok hidup gini gini amat ya?". Kita harus belajar cara untuk budek agar ga peduliin omongan orang yg cibir kita, harus belajar nahan air mata dan ngeluarin di waktu dan tempat yang tepat, kita harus belajar caranya istirahat sejenak untuk bangkit melangkah lebih jauh, dan kita harus belajar gimana caranya untuk merasa cukup akan yang kita punya di hari ini. Ngerasa cukup bukan berarti kita harus pasrah, akan tetapi ikhlas dan tidak selalu menyalahkan diri akan pencapaian yang mungkin masih diluar ekspektasi.

    Kalo saya pribadi si semisal lagi lelah akan pekerjaan dan hidup ini ya caranya agar tetep waras ngelakuin sesuatu yang emang bener bener saya suka. Kalo perlu keluar dari segala hal yang bakal ganggu kita nikmatin hal tersebut, semisal sukanya berolahraga ya lakuin aja tanpa bawa hp biar ga peduli ada berapa notif yg masuk dll. Biar bener bener bisa nikmatin hal tersebut.

    Semangat terus mba Rere, oh ya salam kenal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal ya Mas Ilham,

      Kaya semakin dewasa kita jadi makin kaya squidward wkwkwk. Jadi kudu ignorant, waspada tapi kudu bisa baca situasi juga. Menjadi sukses kadang kudu relain kesehatan gitu wkwkwkw.
      Thankyou sarannya, kayanya bisa dicoba sih puasa hp untuk beberapa hari. Siapa tau jadi ketularan lebih waras.

      Delete
  2. Nice writing, Re! Kalau aku setuju dengan Mbahmu, jika kamu lelah, istirahat sejenak. Hidup bukan melulu harus mengejar kesuksesan, tapi bagaimana proses kita menuju ke sana yang terpenting. Jika tidak berhasil, apa boleh buat? Setidaknya kita udah mencoba 😁
    Semangat Rere!! ✨

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you yaa, berusaha sukses boleh tapi jangan lupa buat tetep waras gitu yaa wkwkw.

      Delete