Kemiskinan dalam Industri Hiburan

by - Friday, January 01, 2021



Reality show yang menampilkan kehidupan orang dengan ekonomi serba kekurangan seringkali menarik perhatian. Sebut saja Jika Aku Menjadi, Orang Pinggiran, hingga show yang menyiksa seperti Microphone Pelunas Hutang hingga Uang Kaget.

Semenjak lama aku memang suka sama media, dan reality show macam itu agaknya sering menarik perhatianku soalnya ada beberapa poin di mana aku dulu bisa relate sama penuturan dan kisah hidup mereka, walaupun aku nggak merasa sebegitu miskin, tapi keseharian orang yg hidup di desa atau background perjuangan orang tua seringkali jadi faktor yg cukup nyenggol batinku kala itu.

Tapi semakin bertambahnya usia, aku jadi ngerasa kok kaya dilebih-lebihkan gitu ya, atau sering kali kok ada kebetulan pas proses shooting ada beberapa drama ringan dan kameramen bisa mengabadikan momen itu dengan sangat sempurna. 

Kemudian aku ngerti, ini adalah beberapa rumus membuat orang tertarik dengan tontonan atau konten yang disajikan di layar kaca.
1. Drama
2. Kalau bagus harus bagus banget
3. Kalau jelek ya harus jelek banget
*Dalam konteks ini kaya ya kaya banget, miskin ya dibuat keliatan miskin miskin banget.

Main aman di tengah itu mungkin berarti jujur, tapi bisa juga berarti rela tidak dapat banyak eksposur.

Salah satu hal yang buat aku kurang berkenan sama bagaimana media menyajikan kemiskinan, yaitu pertunjukkan atau show yang menampilkan orang miskin sebagai orang yg gak punya kekuatan dan kemudian dihadirkan orang yang cukup beruang ditampilkan seperti figur 'dewa penyelamat', orang yang beruang itu kemudian meminta si miskin untuk melakukan sejumlah kegiatan aneh dengan imbalan sejumlah Rupiah. Sejumlah rupiah yang mungkin tidak lebih dari 1/10 dari pendapatan acara tersebut setiap episodenya, mengingat kencangnya tagline brand berkumandang di acara tersebut.

Kalau ada yang nonton The Hunger Games, mungkin bisa melihat hal serupa, di mana orang-orang miskin didandani sedemikan rupa dan diminta saling membunuh untuk kebutuhan hiburan orang-orang beruang. 

Dalam salah satu video di kanal Youtube Remotivi yang berjudul Sirkus Kemiskinan Di Layar Kaca, ada satu kalimat yang cukup menyentil, "Mengais keuntungan dari menjual penderitaan orang lain tidaklah melanggar hukum." Jadi mungkin karena ini pula tayangan semacam ini tidak akan punah dan terus berevolusi sedemikian rupa.

Anyway I don't hate them just because of it, karena walau bagaimanapun salah satu cara untuk menghasilkan rupiah untuk beberapa orang adalah dengan menjajakan iba. Karena gak banyak bidang pekerjaan yang mau mengambil mereka sebagai salah satu pekerja. Thankyou yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca sampai sini.

You May Also Like

12 comments

  1. Mantap kak aku jadi tambah pengetahuan hehe

    ReplyDelete
  2. Yang namanya dunia layar TV, ujung"nya ya bagaimana caranya supaya bisa memuncaki rating tinggi. Juga, lebih mementingkan cuan ketimbang kualtias acara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul, rating jadi ukuran menarik tidaknya sebuah acara. Kalau acara punya rating tinggi, dinilai sebagai acara yang menarik dengan alasan banyak yang nonton. Rating yang tinggi juga berbanding lurus dengan cuan yg didapetin dari iklan iklan yg masuk.

      Delete
  3. Salah satu yg membuatku nggak betah lama-lama nonton TV adalah karena konsep ini, mbak. Bisa terlihat dengan banyaknya tayangan yg menampilkan hidup artis, di saat yg bersamaan juga banyak konten atau tayangan tentang "si miskin" yang seolah dijajakan, seperti kata mbak. Pada akhirnya, kita memang nggak bisa berbuat banyak untuk industri tersebut sebab semua orang berlomba-lomba mengisi perut mereka. Hingga menjadi idealis pun terlalu sulit untuk digapai😫.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada akhirnya yang bisa kita lakuin cuma dengan cara nggak menonton. Itupun gak berpengaruh banyak, sebab nggak semua dari kita dijadikan angka untuk perhitungan rating. Tapi mau bagaimana lagi Mbak Awl, industri TV tetep gak bisa mati walaupun mereka seolah punya dunia sendiri yang gak bisa kita masuki lewat kritik ataupun saran.

      Delete
  4. Kok baca ini jadi miris ya sama industri ini? Tapi yah gimana ya, emang tayangan itlah yang terbukti banyak penontonnya. Susah juga sih orang nyari kerja dan butuh duit, hehe. Nice information kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang seperti itu kak formula yang tepat untuk menggaet penonton, dari yang nggak tau sampai yang 'halah cuma liat dikit daripada gak ada tontonan'. Gak bisa dipungkiri juga, company juga maunya punya employee yg berpendidikan tinggi, jadi menjajakan iba jadi salah satu pilihan untuk mereka mencari nafkah, dan tv pun memanfaatkan keadaan dengan cara menyediakan wadah. Thankyou udah mampir.

      Delete
  5. Topik kemiskinan ini dari dulu sampai sekarang masih aja rame di tv. Dulu waktu SD aku juga suka nonton acara begituan di TV, Mbak. Tapi entah kenapa setelah semakin mendewasa aku gak tertarik lagi. Terlalu banyak kebetulan. Apakah ini real terjadi? Atau hanya settingan belaka? Aku gak tau.

    Mirisnya sekarang juga lagi rame acara pamer keluarga artis yang kayanya luar biasa. Sungguh jomplang jika dibandingkan dengan acara yang mengumbar kemiskinan. Mungkin benar kata Mbak Rere: yang rame ditonton itu drama, hal-hal yang kalau bagus ya buagus banget sekalian, kalau jelek ya yang juelek banget sekalian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agak aneh juga ya mbak, namanya reality show tapi kok disetting sedemikian rupa. Kenapa gak masuk genre drama kemiskinan aja hahahaha.

      Bener mbak, udah kaya kesepakatan bersama secara tanpa sadar kalau manusia pada umumnya mudah tertarik sama ketiga hal tersebut secara alamiah sebelum otaknya memproses informasi. Jadi semakin dewasa dan semakin banyaknya ilmu, kemampuan kita memilah informasi jadi semakin lebih cepat, jadi kemungkinan asal tonton dan asal klik jadi lebih kecil.

      Delete
  6. Udah kayak lingkaran setan sih ya mba. Masyarakat yang menonton senang drama makjang. Ya, pembuat acara bikin konten yang disukai penonton. Padahal kalau yang bikin acara mau mengusung tema yang mendidik, masyarakat yang menonton jadi ikut terdidik. Cuma ya, entahlah, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, udah terjebak lingkaran setan. Acara mendidik juga diselingi joke-joke 'cringe'. Acara hiburan jadi menyeleweng.

      Aku nggak tau apakah semua acara formatnya seperti ini, tapi beberapa acara yang pernah aku lihat rata-rata begitu.

      Delete